Assalamualaikum,
Para pembaca dunia-dalam-derita.blogspot.com, pada kali ini saya menyadur berita dari BLOG lain dengan alamat sebagai berikut : REFERENSI
selamat membaca:
“Mengapa Prabowo ingin jadi Presiden?” tanya saya kepada seorang teman, waktu kemarin bertemu di restoran, Metropolis Hong Kong. Teman ini saya kenal baik karena bisnisnya ada hubungan dengan Prabowo.
“Bukan hanya ingin, tapi berambisi. Tahu kan, apa itu ambisi? Sesuatu
yang sangat diharapkan dan untuk itu akan diperjuangkan dengan all at cost,” katanya.
“Tapi apa motivasinya? Apakah benar karena ingin berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara?” tanya saya.
Teman itu dengan tersenyum mengatakan kepada saya bahwa motivasi utamanya adalah karena dendam masa lalu.
Prabowo lahir dari keluarga elit dan intelek. Ayahnya Soemitro
Djojohadikusumo dikenal sebagai begawan ekonomi. Kakeknya, Raden Mas
Margono Djojohadikusumo, anggota BPUPKI, pendiri Bank Negara Indonesia
dan Ketua DPA pertama. Jadi baik kakeknya maupun ayahnya adalah
bangsawan dan cendekiawan.
Meski masa remajanya banyak di luar negeri karena harus mengikuti
ayahnya yang merupakan buronan politik era orde lama rezim Soekarno
namun ketika berangkat dewasa, Prabowo berada di ring satu kekuasaan
Soeharto.
Karena ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo sebagai arsitek pembangunan
Ekonomi Orde Baru, tentu sangat dipercaya oleh Soeharto. Alasan rasa
hormat Soeharto kepada Soemitro-lah yang meminta agar putranya, Prabowo
menjadi menantunya.
Sejak itu Prabowo menjadi menantu dari orang nomor 1 di negeri ini
yang berkuasa dengan sangat otoriter. Karir Prabowo di militer sudah
dapat ditebak. Ia menjadi rising star. Pangkatnya naik dengan cepat.
Sebagai anak bangsawan dan cendekiawan, serta tumbuh berkembang
sebagai menantu Presiden, secara psikologis telah membuat Prabowo
menjadi orang yang sangat tinggi rasa bangganya. Dia tidak pernah siap
untuk dilecehkan atau dikecilkan oleh orang lain.
Chaos Mei 1998 yang membuat Soeharto harus lengser dan
sampai kini masih menjadi awan gelap siapa dibalik kerusuhan itu. Siapa
yang paling bertanggung jawab atas tragedi Mei 1998? Yang pasti setelah
itu Prabowo diberhentikan oleh Panglima ABRI. Mungkin seumur negeri ini
hanya Prabowo satu satunya Perwira Tinggi yang diberhentikan oleh TNI.
Karena pemberhentian sebagai Pati TNI itu membuat Prabowo sakit hati
dengan atasannya. Namun dia tidak berdaya untuk melawan karena memang
tidak punya nyali seperti Khaddafi sang kolonel yang mengkudeta Raja
Idris di Libya. Prabowo memilih untuk menjauh pergi ke Yordania membantu
usaha adiknya (Hashim Djojohadikusumo). Kebetulan Raja Yordania,
Abdullah II, adalah sahabat Prabowo dulu sewaktu mengikuti training di
Fort Benning, lembaga pendidikan militer bergengsi di Amerika Serikat
khusus pencetak pasukan para komando.
Menurut teman saya, Hashim lah yang memotivasi Prabowo untuk
mendirikan partai dan mencalonkan diri sebagai Presiden. Ini diajukan
oleh Hashim setelah dia terpaksa melepas bisnis tambang batu baranya di
PT. Adaro. Kasus ini sempat digelar di Pengadilan Singapore. Hashim
dendam dengan kekalahan ini. Prabowo juga dendam dengan dia tersingkir
sebagai Pati TNI. Oleh karena itu akhirnya Prabowo juga setuju dengan
ide Hashim.
Di sini faktor dendam menjadi dominan.
Sejak Partai Gerindra didirikan, Hashim bertindak sebagai sumber
uang bagi Prabowo. Tahun 2004 pasangan Mega-Prabowo tidak berdaya
menghadapi SBY yang didukung oleh ARB. Hashim tahu bahwa kekalahan
Mega-Prabowo sama dengan kekalahannya atas Adaro. Semua karena dibalik
ARB ada Nathaniel Philip Rothschild (Nat). Nat adalah anggota dari
keluarga terkaya Yahudi. Buyutnya bernama Mayer Amschel Bauer Rothschild
merupakan penggerak utama Zionis dan pendana ketika terjadi migrasi
besar besaran bangsa Yahudi dari seluruh dunia kembali ke Tanah
Palestina, dimana akhirnya terbentuklah negara Israel. Nat sendiri
dikenal sebagai konglomerat tambang terbesar di dunia. Buyutnya adalah
pendiri bursa emas di london dan pendiri The Fed (Bank central Amerika).
Nat didukung oleh sumber pendanaan Yahudi dari hasil menguras SDA
diseluruh dunia, seperti Abu Dhabi Investment Council, Schroders
Investment Management Limited, Standard Life Investments, Taube Hodson
Stonex LLP, Artemis Investment Management LLP, dan Robert Friedland.
Sumber pendanaan Nat lebih besar dari GNP Amerika. Nat benar benar real
power.
Pada September 2012 Hashim bertemu dengan Nat untuk yang pertama
kalinya di restoran Belvedere yang berada di Holland Park, London.
Pertemuan keduanya ‘dicomblangi’ teman Hashim yaitu Robert Friedland
seorang konglomerat tambang AS dan pemegang saham terbesar di beberapa
lembaga keuangan Eropa dan Amerika. Ternyata setelah pertemuan tersebut
Hashim memutuskan bergabung dengan Nat. Hal ini terjadi karena Nat
tengah bertikai dengan sohibnya, ARB, di Bumi Resource PLC yang listed
di Bursa London. Nat menguasai saham Bumi Resouce PLC melalui anak
perusahaannya bernama Vallar. Awalnya ARB dimanfaatkan oleh Nat untuk
menguasai tambang batu bara di Indonesia dan karenanya Nat mendukung SBY
sebagai Capres tahun 2004, dimana ARB berada di belakang SBY. Tampaknya
awal pertikaian antara ARB dan Nat terjadi ketika ARB telah menjadi
Ketua Umum Golkar dan bermitra dengan China Investment Corporation
(CIC). ARB tidak lagi berdiri sebagai loyalis Nat karena sudah mendapat back up
dari CIC. Dia ingin bersama CIC menguasai Tambang Batu bara di
Indonesia dan mendepak Nat di Bumi Resouce PLC, dan tentu ingin
menguasai Freeport karena PT. Bumi Resource juga adalah pemegang saham
Freeport. Itu sebabnya ARB menggunakan Golkar sebagai kendaraan untuk
menjadi Presiden RI. Nat tidak bisa menerima sikap ARB tersebut. Maka
perang tidak bisa dielakkan. Awalnya ARB tersingkir dari Bumi Plc namun
ARB melawan. Setelah 13 bulan peperangan berlangsung, berakhir dengan
ARB berhak menguasai kembali PT. Bumi Resource namun harus membayar
sebesar 501 juta dollar AS. Karena uang inilah ARB harus rela mendukung
Prabowo sebagai Capres. Actual winner is Rothschild Family.
Ya, bagi ARB dan Hashim, kekuasaan formal tidaklah penting, yang
penting adalah UANG. Dengan uang maka kekuasaan bisa diperalat. Ingat
apa kata Mayer Amschel Bauer Rothschild , “Give me control of a nation’s money and I care not who makes it’s laws”. Kini Hashim dan ARB akan menjadi settlor
dari Rothschild untuk mendukung Prabowo jadi RI-1. Bersamanya juga ada
barisan partai berbendera Islam yang ikut bergabung untuk menjadi icon
melawan kekuatan ideologi kaum Marhaen (sosialis nasionalis). Rothschild
membeli jiwa mereka semua dengan uang dan mereka loyal karena itu,
tentu untuk kepentingan Rothschild, bukan kepentingan nasional apalagi
kepentingan agama.
Makanya kemenangan Jokowi akan menjadi mimpi buruk bagi kapitalisme.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar